Halaman

Kamis, 13 Januari 2011

Foto Ceria di Kotagedhe

Kembali lagi nulis blog... ^^

Sekarang Q mw sharing hasil kegiatan foto - memfotoQ yang sbenarnya udah cukup lama berlalu. Kira - kira semingguan yang lalu. Baru sempat sharing sekarang karena aq langsung diterpa oleh kesibukan - kesibukan UAS dari kegiatan perkuliahan. :(

Pada kegiatan kali ini aq memfoto teman kuliahQ, namanya Fitri Windawati.
Lokasi yang jadi tempat foto adalah masjid Mataram Kotagedhe dan sekitarnya.
Jujur aja, aq baru pertama kali ke tempat ini, padahal aq warga Jogja asli. Heheheee... ^^
Pernah sih ke Kotagedhe tapi hanya berjalan ke bagian toko - toko peraknya saja. Setelah melihat Masjid Kotagedhe dan sekitarnya, ternyata baru Qsadari klo di Kotagedhe banyak spot bagus tuk foto. Sayangnya, kmarin Q blom bisa memanfaatkan lokasi yang indah tersebut untuk memperindah fotoQ.
Foto wide yang Qambil banyak yang gagal.... T.T
Akhirnya ini lah jadinya foto yang Qtangkap di sana.




3 komentar:

  1. Wow great sets of image. Like your toned finished of the shot

    BalasHapus
  2. Hahaha...
    Thank you... ^^
    I love your photos too. Especially your monochrome photo. It's great...

    BalasHapus
  3. Salam kenal, tulisan yang informatif, kunjungi juga blogku yaaa!!! Jejak perjuangan Ki Bagus Wanabaya Putra Mangir Wanabaya
    Ki Ageng Mangir Wanabaya adalah suami Kanjeng Roro Sekar Pembayun, putri Panembahan Senopati ing Mataram, perkawinan tunggalnya menghadirkan putra ki Bagus Wanabaya yang lahir di Pati Jawa Tengah pada tahun 1588, Bagus Wanabaya bersama ibunya sempat berguru pada Pangeran Benawa otra Joko Tingkir diwilayah Kendal Jawa tengah. Pada tahun 1818 bagus Wanabaya bertempur dipihak Mataram dibawah pimpinan Ki Bahurekso melawan Pos VOC di Jepara Jawa Tengah, pertempuran Jepara tersebut dimenangkan oleh pihak Mataram. Selanjutnya Ki bagus Wanabaya bersama keluarga besar Kanjeng Roro Sekar Pembayun hijrah ke Pajajaran untuk bertemu dengan orangtua Nyimas Linggar Jati istri Ki Bagus Wanabaya, adik dari sahabat karibnya yaitu Purwagalih atau disebut Ki Jepra (jenazahnya dimakamkan didalam Kebon Raya Bogor Jabar) selanjutnya karena mereka sudah berkomitment untuk membangun jaringan intelejen mataram di Batavia rombongan veteran Perang Jepara 1618 itu kembali menduduki pos di wilayah Banjaran Pucung Cilangkap Tapos Depok tepat di mata air Kali Sunter, mereka mendirikan basis gerilya dengan bimbingan Pangeran Jayakarta yang saat itu berkedudukan di Batavia diwilayah Jatinegara. Ki Bagus Wanabaya memimpin sekitar 80 tentara Mataram yang merupakan pasukan khusus yang bergerak dalam wilayah Benteng Batavia, merekalah pasukan Pandu Mataram yang kelak mempunyai peranan penting saat Sultan Agung menyerang Batavia di tahun 1628 - 1629. Sayangnya Kanjeng Roro Pembayun tak bisa menikmati buah kemenangan Mataram, beliau meninggal di Jatinegara 1625 tertembak pasukan VOC yang sedang menyerbu Pos Pangeran Jayakarta. Jenazahnya dimakamkan di Keramat Kebayunan Tapos Depok. Pada tanggal 20 September 1629 Nyimas Utari Sandijayaningsih, putri Bagus Wanabaya yang menyamar sebagai penyanyi cafe Batavia berhasil menjebak Jaan Pieters Soen Coen kedalam kamar pribadinya dan malam itu Yaan Pieter Soen Coen gubernur jendral VOC terbunuh . Dalam laporan resmi VOC JP Coen wafat akibat penyakit kholera pada tanggal 21 September 1629 kedudukannya digantikan oleh gubernur jendral Jaques Specx. Pasukan sandi khusus Mataram yang berhasil membunuh JP Coen membawa kepala JP Coen untuk diserahkan kepada Panembahan Juminah sebagai Jendral Mataram di Batavia, keberhasilan ini membuat Sultan Agung menerima saran Panembahan Juminah untuk menghentikan serbuan Mataram ke Batavia. Walaupun tak ada jasa bagi Ki Bagus Wanabaya dan keluarganya atas semua jerih payah perjuangan di benteng VOC, namun ia masih tetap berjuang hingga wafat dan dimakamkan di dekat ibunya di Kebayunan Tapos Depok, http://pahlawan-kali-sunter.blogspot.com/2013/01/perjuangan-utari-sandijayaningsih-dalam.html

    BalasHapus